ASPEK KEHIDUPAN PEMERINTAHAN KERAJAAN HOLING
A) Kehidupan Politik
Berdasarkan berita cina di sebutkan bahwa kerajaan
kalingga / holing di perintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima.
Pemerintahan Ratu Sima sangat keras namun adil dan bijaksana. Kepada setiap
pelanggar, Ratu Sima selalu memberikan sanksi yang tegas. Rakyat tunduk dan
patuh terhadap segala perintah Ratu Sima bahkan tidak seorang pun rakyat maupun
pejabat kerajaan yang melanggar segala perintahnya.
B) Kehidupan Ekonomi
Kehidupan perekonomian masyarakat kerajaan kalingga /
holing berkembang pesat. Masyarakat kerajaan kalingga telah mengenal hubungan
perdagangan. Mereka menjalin hubungan perdagangan pada suatu tempat yang di
sebut dengan pasar. Pada pasar itu, mereka mengadakan hubungan dengan teratur.
Selain itu, kegiatan ekonomi masyarakat lainnya, di antaranya bercocok tanam,
menghasilkan kulit, penyu, emas, perak, cula badak, dan gading serta membuat
garam. Kehidupan masyarakat holing tentram. Hal itu di sebabkan karena di
Holing tidak ada kejahatan dan kebohongan. Berkat kondisi itu, rakyat Holing
memperhatikan pendidikan. Hal itu terbukti dengan adanya rakyat Holing telah
mengenal tulisan dan ilmu perbintangan.
C) Kehidupan Agama
Kerajaan kalingga merupakan kerajaan yang sangat
terpengaruh oleh ajaran Budha. Oleh karena itu, Holing menjadi pusat pendidikan
agama Budha. Holing memiliki seorang pendeta yang bernama Jnanabhadra. Hal itu
menyebabkan masyarakat Holing mayoritas beragama Budha.
Pada suatu hari, seorang pendeta Budha dari Cina berkeinginan menuntut ilmu
di Holing. Pendeta itu bernama Hou-ei-Ning. Ia pergi Holing untuk menerjemahkan
kitab Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa Cina.
Sepertinya kerajaan ini tidaklah hancur/runtuh tetapi Setelah Maharani
Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja
Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram. Pada tahun 752,
Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini
menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu.
PENINGGALAN KERAJAAN HOLING
Peninggalan Kerajaan Holing diantaranya adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
Menurut para sejarahwan candi dieng dibangun pada abad ke-7 Masehi. Perintah membangun candi diberikan oleh Ratu Sima dari Dinasti Sanjaya yang memerintah Kerajaan Holing. Tujuannya sebagai tempat pemujaan. Ratu Sima juga mendirikan beberapa candi lain di kawasan Dieng, seperti Candi Gatotkaca di bukit Pangonan, Candi Dwarawati di kaki Gunung Prahu, dan Candi Bima yang merupakan candi terbesar di Dieng. Candi-candi yang berada di luar kompleks tersebut pada umumnya terletak menyendiri dan dikelilingi pepohonan.